MARI BUDIDAYA JAMUR TIRAM (Pleurotus ostreatus)

Nama  : Syera Aqila Prameswari
NIM     : 185040101111083
Kelas   : H
Budidaya Tanpa Tanah

Pengenalan Jamur Tiram

Gambar 1. Jamur Tiram

Jamur tiram  (Pleurotus species)  merupakan salah satu dari beberapa jenis jamur edible (dapat dikonsumsi) yang telah dibudidayakan dalam skala industri. Jamur tiram menjadi salah satu bahan makanan yang banyak dikonsumsi diseluruh dunia. Mengapa? Dikarenakan tekstur dan rasa jamur tiram yang lezat menyebabkan permintaan akan jamur tiram tinggi. Selain itu kandungan gizi yang ada pada jamur tiram menyebabkan tingginya tingkat konsumsi. Menurut Adebayo dan Oleke (2017), kandungan gizi jamur tiram terdiri atas karbohidrat (39,9%) protein (17,5% ) dan lemak (2,9%), kemudian sisanya adalah mineral. Kemudian jamur tiram memiliki kalium dan natrium yang tinggi, yang menjadikan jamur makanan yang cocok bagi pasien yang menderita hipertensi dan penyakit jantung.

Jamur tiram dapat dibedakan menjadi beberapa jenis jamur antara lain yaitu Pleurotus ostreatus (tiram abu-abu), Pleurotus ostreatus (tiram putih), Pleurotus cornucopiae var. citrinopileatus (tiram kuning cerah) dan Pleurotus salmoneostramineus (tiram merah muda). Namun di Indonesia sendiri budidaya jamur tiram lebih banyak ditemukan pada spesies jamur tiram putih dengan kenampakan fisik bentuk jamur berwarna putih.  Klasifikasi jamur tiram antara lain berasal dari filum Basidiomycota, kelas: Agaricomycetes, famili: Pleurotaceae (Oali et al, 2015).

 

Media Tanam Jamur Tiram

Media tanam berperan sebagai medium yang nantinya berfungsi sebagai tempat jamur tiram menghasilkan tubuh buah. Berbeda dengan tanaman maupun tumbuhan yang tidak memerlukan banyak media dalam proses pertumbuhannya. Jamur tiram menggunakan media yang berbeda pada setiap fase pertumbuhannya. Sehingga media jamur tiram dapat 

                Fase pertumbuhan F0 atau biakan murni memerlukan media berupa PDA (Potato Dextrose Agar), dan diletakkan kedalam cawan petri atau botol kaca. Menurut Sagala et al (2015), untuk menghasilkan hasil biakan jamur F0 yang memiliki kualitas baik maka harus memenuhi beberapa kriteria antara lain media tanam mengandung nutrisi, dan tidak ditemukan adanya kontaminasi pada media yang dibuat. Kemudian, darimana nutrisi dapat diperoleh untuk media F0?, nutrisi tersebut dapat diperoleh dari media PDA yang terdiri atas agar, kentang. Menurut Iskandar (2017), Kentang berfungsi sebagai penghasil karbohidrat, dan serat yang digunakan untuk pertumbuhan miselium jamur tiram. Setelah mendapatkan media tanam yang bernutrisi media F0 juga harus bebas dari adanya kontaminasi, pencegahan kontaminasi dilakukan melalui proses sterilisasi sebanyak 3 tahapan dengan melalui proses pemanasan.

            Media yang digunakan dalam proses pertumbuhan jamur F1 berupa biji-bijian seperti jagung. Media tersebut menurut Iskandar (2017),  bertujuan untuk menghasilkan kondisi miselium jamur yang baik, dikarenakan pada pertumbuhan jamur F1 jamur lebih banyak membutuhkan kandungan lignin dan karbohidrat yang sedikit, kandungan tersebut didapatkan dari biji-bijian salah satunya jagung. Jagung dimasukkan kedalam botol kaca yang kemudian dapat ditutup dengan kapas setelah terjadinya proses inokulasi.

            Media yang digunakan dalam proses pertumbuhan jamur F2 berasal dari beberapa bahan antara lain substrat dedak padi, serbuk gergaji, kapur (CaCO3), air. Pembuatan media F2 menurut Pathmashini (2008), dilakukan dengan mencampurkan komposisi dedak padi 10%, serbuk gergaji 89,8%, serta kapur (CaCO3) 0.2% dengan air, setelah proses pencampuran dilakukan proses pendiaman substrat hingga semalaman. Keesokan harinya kandungan air dalam substrat dipisahkan dan substrat dimasukkan kedalam plastik polypropylene ukuran 1 kg. Selanjutnya dilakukan proses penutupan menggunakan ring dan dilakukan proses sterilisasi menggunakan autoclave dengan tekanan 15 lb/sq inc selama 30 menit.

            Komposisi media yang digunakan dalam media F2 memiliki beberapa fungsi yang berperan dalam pertumbuhan miselium dan pembentukan tubuh buah jamur tiram. Kapur menurut Masefa et al (2016), pada media tanam jamur tiram berfungsi sebagai penyedia mineral dan mengatur pH media tanam. Serbuk gergaji berasal dari jenis pohon seperti pohon mangga, jati dengan kondisi yang baik, menurut Wardana dan Iqbal (2016), serbuk gergaji sebagai substrat berperan sebagai penyedia nutrisi bagi jamur tiram. Kemudian fungsi dari penambahan dedak padi berfungsi sebagai penyedia sumber Nitrogen yang merupakan bahan penyusun protein dan enzim (Muchsin et al, 2017).

*Berikut merupakan video yang dapat dilihat untuk memperjelas pembatan media jamur tiram

Lingkungan Tumbuh Jamur Tiram

Lingkungan tumbuh merupakan faktor penentu pertumbuhan miselium jamur selain dari media tumbuh jamur tiram. Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan jamur tiram antara lain sebagai berikut :

1.   Suhu

Suhu merupakan salah satu faktor pendukung pertumbuhan miselium jamur tiram. Menurut jamur tiram dapat tumbuh pada suhu rendah dan dengan kelembaban yang tinggi. Pada saat awal pertumbuhan miselium suhu lingkungan yang cocok berkisar antara 22-28, sedangkan pada fase pertumbuhan tubuh buah suhu lingkungan yang diperlukan lebih rendah berkisar antara 16-22 (Widiwurjani dan Giniarti, 2016).

2.   Kelembaban

Kelembaban berbanding terbalik dengan suhu. Berdasarkan suhu lingkungan diatas diperlukan suhu rendah dibawah 28, maka kelembaban yang tinggi diperlukan dalam proses budidaya jamur tiram. Kelembaban pada fase pembentukan miselium atau inkubasi berada pada kisaran 60-70%, sedangkan kelembaban yang dibutuhkan pada fase pertumbuhan tubuh buah berada pada kisaran 80-90% (Widiwurjani dan Giniarti, 2016).

3.    pH (tingkat keasaman)

Tingkat/ derajat keasaman (pH) mempengaruhi pertumbuhan miselium jamur dan tubuh buah jamur. Tingkat keasaman pada media tanam yang sesuai untuk pekermbangan jamur tiram berkisar antara 6-7. pH yang terlalu asam atau basa akan berakibat pada terganggunya pertumbuhan jamur tiram (Hasyim, 2015).

4.   Aerasi

Aerasi berkaitan dengan adanya kandungan Oksigen (O2), dan Karbondioksida (CO2) dalam lingkungan tumbuh jamur. Kadar oksigen yang tinggi, dan karbondioksida yang rendah (dibawah 700 ppm), diperlukan pada saat pembentukan tubuh buah jamur. Kadar oksiden yang rendah, dan karbondioksida yang tinggi diperlukan pada fase pembentukan miselium jamur (inkubasi). Sehingga dapat disimpulkan bahwa budidaya jamur tiram dapat tumbuh optimal pada dataran tinggi (Maulana, 2012).

5.   Cahaya

Cahaya menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jamur tiram, meskipun jamur tidak memiliki klorofil. Namun cahaya diperlukan peranannya untuk membentuk tubuh buah jamur tiram, cahaya diberikan pada media jamur tiram dengan tingkat penyinaran berkisar 60-70%. Sedangkan intensitas cahaya tidak terlalu dibutuhkan pada saat pertumbuhan miselium jamur tiram, maka ruang inkubasi dapat dirancang dengan kondisi yang tidak terkena cahaya atau gelap (Hasyim, 2015).

6.   Ketinggian

Ketinggian yang sesuai dengan lingkungan tumbuh jamur tiram akan mendapatkan hasil makasimal  pada daerah dataran tinggi dengan ketinggian 700-800 mdpl. Namun pada daerah dataran rendah juga memungkinkan untuk jamur tiram dapat tumbuh dengan baik (Hasyim, 2015).

Pembibitan Jamur Tiram

Proses pembibitan jamur tiram dilakukan dalam tiga tahap untuk dapat memperoleh tubuh buah jamur tiram yang baik. Pembibitan jamur tiram terdiri atas beberapa tahap sebagai berikut:


Pembibitan F0 dilakukan pada tahap awal pembibitan, hasil dari pembibitan F0 digunakan sebagai hasil biakan murni yang nantinya akan digunakan sebagai bahan pembibitan F1. Pembibitan F0 dilakukan dengan menyiapakan media F0 serta alat dan bahan. Media F0 terdiri atas PDA yang telah diletakkan pada cawan petri dan telah dilakukan proses sterilisasi. Kemudian alat dan bahan yang digunakan antara lain pinset, jarum, dan spatula. Alkokohol 70% sebagai disinfektan. Proses inokulasi dilakukan dengan memindahkan giils jamur tiram menggunakan spatula dan jarum yang pada media PDA, proses inokulasi harus tetap aseptik. Kemudian setelah proses inokulasi F0 media ditutup dengan film atau penutup untuk menghindari terjadinya kontaminasi (Chih-Ming Hsu et al, 2018).

Pembibitan F1 dilakukan dengan menyiapkan media F1 serta alat dan bahan yang dilakukan untuk proses inokulasi. Media F1 berupa biji jagung terlebih dahulu dilakukan proses perendaman dan pemanasan hal tersebut bertujuan untuk membunuh mikroba dalam media F1. Proses inokulasi dilakukan dengan menyiapkan alat dan bahan seperti pisau bedah, bunsen (nyala api), alkohol 70%, serta hasil biakan F0. Kemudian dilakukan pemotongan hasil biakan F0 menggunakan pisau bedah dengan bentuk kubus, kemudian ambil dengan spatula. Selanjutnya hasil potongan tersebut dimasukkan kedalam media F1 yang berisi biji jagung dan berada pada botol, kemudian tutup dengan menggunakan kapas atau penutup lainya. Setiap proses pembibitan F1 perlu dilakukan sterilisasi alat dengan meng angin-anginkan alat diatas nyala api bunsen (Chih-Ming Hsu et al, 2018).

Pembibitan F2 menggunakan bahan hasil inokulasi F1, dan media tanam F2. Media tanam F2 yang berbentuk baglog dan berisi komposisi serbuk gergaji, dedak padi, dan kapur. Tahap pertama yang dilakukan menurut (Riyanto, 2010). adalah melakukan pengadukan pada serbuk gergaji agar hasil inokulasi F1 dapat dimasukkan dalam media F2. Selanjutnya dilakukan pengambilan hasil inokulasi F1 menggunakan spatula, namun sebelumnya dilakukan proses pemanasan pada bagian cincin baglog menggunakan nyala apa bunsen hal tersebut bertujuan untuk mengurangi terjadinya kontaminasi, kemudian dilakukan penutupan dengan menggunakan kertas. Tahap terakhir adalah proses pemindahan baglog pada ruang inkubasi. Kemudian setelah 3-4 minggu hasil inokulasi F2 akan terlihat benang putih (miselium) yang memenuhi seluruh isi baglog (Mumtazah, 2017).

 

Gambar 2. Pembibitan Jamur Tiram

*Berikut merupakan video yang dapat dilihat untuk memperjelas proses pembibitan jamur tiram

Teknik Budidaya Jamur Tiram

Teknik yang diperhatikan dalam kegiatan budidaya jamur tiram meliputi hal-hal sebagai berikut  (Susilawati dan Budi, 2010) :

Teknik yang diperhatikan dalam kegiatan budidaya jamur tiram meliputi hal-hal sebagai berikut  (Susilawati dan Budi, 2010) :

1.    Pesiapan kumbung jamur

Kumbung atau ruang produksi jamur merupakan tempat yang dibutuhkan untuk jamur tiram dapat membentuk tubuh buah setalah melalui proses inkubasi (pemenuhan baglog dengan miselium). Kumbung merupakan tempat yang dibuat berbahan dasar bambu maupun tembok. Didalam kumbung terdapat rak yang digunakan sebagai tempat baglog, dengan jarak antar rak berkisar antara 75 cm, lebar 50 cm, dan tinggi maksimal rak 3 meter.

2.    Pembuatan Media tanam

Pembuatan media tanam jamur tiram dilakukan sesuai dengan tahap inokulasi atau pembibitan jamur tiram. Proses pembuatan media baglog contohnya dilakukan dengan melalui proses pengayakan, dan pendiaman pada larutan air, serta pengisian bahan substrat pada baglog.

3.    Sterilisasi Media Tanam

Sterilisasi media tanam dilakukan dengan menggunakan autoclave atau perebusan pada suhu 121℃, 1 atm dengan waktu 4 jam. Tujuan dari sterilisasi media adalah untuk menghilangkan mikroba yang dapat mengganggu pertumbuhan pembentukan miselium dan tubuh buah jamur.

4.    Inokulasi bibit

Inokulasi merupakan proses pembibitan jamur baik pada fase F0, F1, dan F2. Inokulasi sendiri merupakan kegiatan yang dilakukan dengan memindahkan miselium jamur kepada media tanam yang telah disipakan.

5.    Inkubasi

Inkubasi merupakan proses dimana setelah dilakukan inokulasi F2, inkubasi dilakukan pada ruangan untuk mendapatkan kondisi miselium yang memenuhi media baglog

6.    Pemindahan ke tempat produksi

Pemindahan jamur tiram ke tempat produksi dilakukan setelah miselium memenuhi media baglog, untuk kemudian dapat tumbuh tubuh bagian tubuh jamur.

7.    Perawatan

Perawatan meliputi kegiatan untuk menjaga suhu dan kelembaban lingkungan jamur. Dengan melakukan proses penyiraman dengan melakukan pengkabutan pada bagian lantai kumbung jamur untuk tetap menjaga kelembaban lingkungan

8.    Hama dan Penyakit

Sama seperti budidaya tanaman sayuran, pada saat melakukan budidaya jamur tiram dapat ditemukan adanya hama dan penyakit yang dapat mengganggu proses produksi jamur. Menurut Maulana (2012), jenis hama yang menyerang jamur tiram antara lain hama lalat mycophila, lalat sciarid, lalat megaselia, mite (tungau), dan nematoda, maupun tikus. Sedangan penyakit yang dapat menyerang jamur tiram antara lain cendawan patogen, bakteri, dn virus. Bagaimana untuk mengurangi serangan hama dan penyakit untuk budidaya jamur tiram? Maka diperlukan usaha pencegahan dengan tetap menjaga ruangan dan tenaga kerja pada kondisi yang bersih.

  


  

               
                                Gambar 3. Teknik Budidaya Jamur Tiram

*Berikut merupakan video yang dapat dilihat untuk memperjelas teknik budidaya jamur tiram


                       Panen dan Pascapanen Jamur Tiram

Penanganan panen dan pascapanen pada jamur tiram diperlukan untuk mengurangi terjadinya penurunan atau bahkan kehilangan beberapa kandungan seperti nutrisi, air setelah panen. Menurut Maulana (2012), kondisi panen dan pascapanen jamur tiram meliputi beberapa hal sebagai bertikut :

A.   Panen

Kondisi jamur tiram yang telah memasuki kriteria panen dapat dikethaui dengan ciri-ciri seperti telah memasuki usia 60-90 hari, tubuh  buah siap panen dengan bagian tudung jamur tidak terlalu mekar  dan tidak terlalu tua. Lalu bagaiamana tata cara yang dilakukan untuk pemanenan jamur tiram? Panen pada jamur tiram dilakukan dengan memetik dan mencabut tubuh buah jamur tiram yang telah memenuhi kriteria panen seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Panen umumnya dilakukan menggunakan tangan secara manual. Untuk mempertahankan kondisi jamur tiram tetap steril setelah proses pemanenan dilakukan pencongkelan dan pembersihan sisa akar. Kemudian dalam satu media baglog jamur tiram dapat dilakukan pemanenan selama 12 kali, namun bobot panen mengalami penurunan mengikuti berapa kali panen yang telah dihasilkan dalam satu baglog.

berikur merupakan kriterua tabel panen jamur tiram :

(Maulana, 2012)

               *Berikut merupakan video yang dapat dilihat untuk memperjelas teknik budidaya 


B.   Pascapanen

Pascapanen merupakan kondisi dimana setelah jamur tiram mengalami proses pemanenan diperlukan beberapa perlakukan untuk mempertahankan kondisi jamur tiram untuk mengurangi terjadinya kehilangan air, nutrisi setelah panen. Dikarenakan kandungan air jamur tiram mencapai 90-93%, laju respirasi yang cukup tinggi sekitar 71 mg/kg/jam, tekstur yang lunak menyebabkan resiko kerusakan setelah panen di negara beriklim tropis salah satunya Indonesia mencapai 80-100%. Tahapan pascapanen jamur tiram terdiri atas

1.    Pengumpulan

Pengumpulan dilakukan dengan mengumpulkan jamur tiram yang telah panen kedalam wadah yang memiliki permukaan tidak kasar, kemudian jamur tiram perlu dilakukan penumpukan yang tidak terlalu banyak untuk mengurangi terjadinya pembusukan dan bagian tudung jamur rusak.

2.    Pembersihan

Pembersihan dilakukan dengan melakukan pengambilan bahan media tanam yang mungkin masih ada pada tudung atau tubuh buah. Pembersihan untuk jamur tiram berbeda dengan beberapa komoditas sayuran, mengapa? Karena pembersihan dilaukan tanpa melalui proses pencucian.

3.    Sortasi dan Grading

Sortasi dan Grading diperlukan selain untuk memisahkan jamur tiram untuk mengurangi terjadinya kerusakan adalah untuk meningkatkan nilai jual jamur tiram berdasarkan kualitas hasil panen. Sortasi dilakukan dengan memilih kondisi jamur tiram dan dibedakan antara jamur tiram yang memiliki kondisi yang baik dan tidak baik. Kriteria jamur tiram yang tidak baik adalah bentuk yang abnormal, patah, pecah tuduh buah nya. Kemudian grading dilakukan dengan proses pemisahan jamur tiram menjadi berbagai kelas mutu sesuai selera konsumen.

4.    Penyimpanan sementara

Penyimpanan sementara dilakukan sebelum jamur tiram dipasarkan dilakukan dengan memberikan kemasan yang dapat mengurangi laju resipirasi O2. Dapat berupa wadah yang keras dan diberi sirkulasi udara yang cukup, selanjutnya disimpan pada tempat atau ruangan yang teduh dan bersih

5.    Pengolahan jamur tiram

Jamur tiram dapat dipasarkan dalam bentuk utuh tubuh buah jamurnya maupun dalam produk olahan. Pengolahan jamur tiram selain untuk meningkatkan nilai jual, juga digunakan untuk meningkatka diversifikasi produk jamur tiram dikarenakan umur simpan yang pendek. Olahan produk jamur tiram yang banyak ditemukan dipasaran antara lain saus jamur tiram, tepung jamur tiram, asinan jamur tiram.



Gambar 4. Produk Olahan Jamur Tiram



DAFTAR PUSTAKA

Afebayo, E A, dan Oleko J, K. 2017. Oyster Mushroom (Pleurotus Species); A Natural Functional Food. J. Microbiology, Biotechnology, and Food Science. Vol 7(3).

Chih-Ming Hsu, Khalid Hameed, Van T. Cotter, and Hui-Ling Liao. 2018. Isolation of Mother Cultures and Preparation Of Spawn For Oyster Mushroom Cultivatio. Florida : University Of Florida,

Hasyim, Fidha.2015. Budidaya Jamur Tiram. Yogyakarta : Istana Media.

Iskandar, R. 2017. Pertumbuhan  Dan Produksi Jamur Tiram Putih (Pleurotus Ostreatus) Pada Berbagai Media Tanam Bibit F0 Dan F1. [Skripsi]. Makassar : Universitas Hassanudin.

Maulana Sy, Erie. 2012. Panen Jamur Tiram Musim Panduan Lengkap Bisnis dan Budidaya Jamur Tiram. Yogyakarta: Lily Publisher.

Mumtazah, N I, Nuriana, DAN Suparti. 2017. Media Alternatif Pertumbuhan Miselium Bibit F2 Jamur Tiram (Pleurotus Ostreatus) dan Jamur Merang (Volvariella Volvaceae) dengan Batang Jagung dan Batang Pisang. Magelang : Universitas Muhammadiyah Magelang.

Owaid, M N, Sjid S S, Al-Saeedi, Vikineswary S, Idham A A A, dan Jegadeesh R. 2015. Growth Performance and Cultivation of Four Oyster Mushroom Species on Sawdust and Rice Bran Substrates. J. Advances in Biotechnology. Vol 4(3).

Pathamshini, V. Arulmandgy, dan R. S. Wilson W. 2008. Cultivation Of Oyster Mushroom (Pleurotus Ostreatus) On Sawdust. J. Bio Sci. Vol 37(2).

Riyanto, F. 2010. Pembibitan Jamur Tiram (Pleurotus Ostreatus)  Di Balai Pengembangan Dan Promosi Tanaman Pangan Dan Hortikultura (Bpptph) Ngipiksari Sleman, Yogyakarta. [Skripsi]. Surakarta : Universitas Sebelas Maret.

Sagala, LA B, Erni A, Abu S, Maya R, dan Irzaman. 2015. Penumbuhan Miselium Jamur Tiram Putih ( Pleurotus Ostreatus ) Pada Media Sorgum Dan Analisis Fourier Transform Infrared ( Ftir ). Seminar Nasional Fisika. Jakarta : Universitas Negeri Jakarta.

Susilawati dan Budi Raharjo. 2010. Budidaya Jamur Tiram (Pleourotus ostreatus var florida) yang ramah lingkungan (Materi Pelatihan Agribisnis bagi KMPH). BPTP Sumatera Selatan.

Wardanam R, dan Iqbal E. 2016. Mata Naga (Pemanfaatan Alat dan Bahan Rumah Tangga) Produksi Jamur tiram Generasi F0 Sampai F2 Sebagai Bahan Ajar ekstrakurikuler Budidaya Jamur tiram di SMK Raudlatul Ulum. Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Dana BOPTN.

Widiwurjana, dan Guniati. 2016. Potensi Bibit Jamur Tiram Hasil Biakan dari Agroindustri. Surabaya : UPN Veteran” Jatim.

 

 

 

 


Komentar

  1. Haloo saya ingin bertanya. Jamur tiram kan jamur yg sangat terkenal dimana mana. Dibandingkan jamur yg bisa dimakan lainnya.
    Jika suatu saat anda ingin melakukan budidaya jamur tiram ini. Kira kira berapa modal awal yg diperlukan?
    Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas pertanyaanya Mita :)
      untuk saya sendiri apabila ingin memulai usaha jamur tiram saya akan memilih untuk melakukan usaha dalam skala kecil/ rumahan, sebelum nantinya akan saya lakukan dalam skala industri. kemudian saya akan mempersiapkan kumbung (Ruang produksi) dan media yang nantinya saya gunakan, disini saya akan memilih membeli media baglog (hasil inokulasi F2), dikarenakan untuk menghemat biaya produksi dan mengurangi resiko kegagalan inokulasi F0-F1. maka dari itu biaya yang saya gunakan untuk membeli baglog dengan harga per baglog Rp 4.500-5000,-. kemudian rencana saya akan membeli 300 baglog untuk diletakkan pada kumbung sehingga modal yang saya butuhkan untuk mendapatkan bibit sekitar Rp 1.500.000,- untuk pembuatan kumbung yang berbahan dasar bambu untuk skala kecil diperlukan biaya Rp 450.000,- serta biaya lain dalam perawatan seperti air untuk pengkabutan sekitar Rp 250.000,- sehingga modal awal yang dapat saya gunakan sekitar Rp 2.200.000,-. semoga dapat memotivasi mita untuk dapat membudidayakan jamur tiram ya..

      Hapus
  2. Halo Syera, izin bertanya. Mengapa ketika fase pertumbuhan miselium membutuhkan suhu yang lebih tinggi dibandingkan fase pertumbuhan tubuh buah? Lalu apa yang terjadi pada tubuh buah jika menggunakan suhu yang sama seperti ketika pertumbuhan miselium? terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas pertanyaanya revy :)
      jadi mengapa diperlukan perbedaan suhu pada saat perbedaan fase pertumbuhan? hal tersebut terkait dengan sifat miselium yang berbeda pada tiap fase pertumbuhannya. pada fase petumbuhan miselium pada saat inkubasi memerlukan suhu yang lebih tinggi akan menyebabkan pertumbuhan miselium lebih baik dan optimum untuk. sedangkan pada fase pertumbuhan tubuh buah diperlukan suhu yang lebih rendah, karena apabila suhu tinggi menyebabkan tubuh buah jamur menjadi terganggu pertumbuhannya seperti kering bahkan mati, karena jamur tiram sendiri memiliki kandungan air yang tinggi

      Hapus
  3. Haii izin bertanya, untuk penyimpanan jamur tiram tanpa pengolahan dapat bertahan berapa lama ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas pertanyaanya Riezky :)
      penyimpanan jamur tiram tanpa penngolahan biasanya memiliki umur simpan yang relatif rendah, hal tersebut dikarenakan sifat jamur tiram sendiri yang memiliki kandungan air tinggi serta laju respirasi yang cepat menyebabkan umur simpan jamur tiram apabila tidak diberi perlakuan suhu rendah (dimasukkan kedalam lemari es, dsb) akan lebih rendah. berdasarkan refrensi yang saya baca jamur tiram hanya bertahan selama 4-6 jam, kemudian selanjutnya jamur tiram akann terlihat layu dan menguning

      Hapus
  4. saya ingin bertanya terkait hama yang menyerang jamur, berdasarkan pengalaman saya hama yang biasa menyerang jamur itu seperti ulat kecil berwarna transparan dan kumbang kecil, untuk mengatasinya apakah hanya dengan tetap menjaga ruangan dan tenaga kerja pada kondisi yang bersih? karena hanya dengan melakukan hal itu biasanya tidak dapat menghilangkan hama tersebut dan jika menggunakan pestisida anorganik biasanya hama menjadi resisten, apakah ada alternatif lain agar dapat mengurangi serangan hama tersebut? terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas pertanyaanya warda :)
      jadi untuk pengendalian hama pada budidaya jamur tiram selain melakukan tindakan preventif (pencegahan) terdapat beberapa alternatif lain seperti penggunaan lampu perangkap yang sesuai dengan pemberian lem, hal tersebut bertujuan menarik serangga mungkin seperti hama yang menyerang jamur tiram warda (kumbang. pemasangan alat tersebut bertujuan menarik perhatian serangga dan serangga dapat melekat.
      kemudian untuk hama lalat berdasarkan refrensi yang saya baca dapat menggunakan filter (fly netting) menggunakan bahan kasa dan diletakkan pada bagian atas pintu (fentilasi), dan pada bagian cendela
      semoga dapat membantu penjelasan saya, semangat terus untuk budiday jamur yaa :) !!

      Hapus
  5. Hai Syera, saya izin bertanya. Penyimpanan jamur tiram itu lebih baik disimpan di suhu ruang atau suhu rendah (kulkas) ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas pertanyaanya Ida :)
      penyimpanan jamur tiram berdasarkan karakteristik sifat jamur yang telah saya sampaikan diatas. penyimpanan jamur tiram setelah panen lebih baik berada pada suhu rendah atau dalam lemari pendingin. dikarenakan jamur tiram memiliki laju respirasi yang tinggi sehingga untuk menghambat laju respirasinya maka jamur tiram dapat diletakan didalam kulkas untuk mengurangi terjadinya penyusutan berat pada jamur tiram dan menjaga kesegaran jamur tiram

      Hapus
  6. Hai syeraaa, mau nanya dongg. Kenapa saat panen terdapat kondisi tubuh jamur tiram yang berbeda pada satu tempat produksi (kumbung)?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas pertanyaanya Ria :)
      meskipun dalam satu tempat produksi (kumbung) namun tidak semua tubuh buah jamur memiliki kualitas yang sama. berdasarkan refrensi yang saya baca hal tersebut dikarenakan tidak semua jamur tiram dalam satu kumbung tumbuh secara bersamaan. dan faktor lingkungan seperti kumbung jamur dan faktor genetik jenis jamur tiram dapat mempengaruhi perbedaan kondisi tubuh buah jamur tiram. sehingga tubuh jamur tiram yang belum tumbuh sempurna dapat ikut terpanen

      Hapus
  7. Hai kak, saya ingin memulai menjadi petani jamur, apa yang harus saya lakukan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas pertanyaanya Ferry :)
      jadi untuk memulai bisnis dalam budidaya jamur tiram ini dapat dimulai dengan melihat dan mempelajari materi tentang teknik budidaya jamur tiram, hal tersebut berkaitan dengan mempersiapkan ruangan produksi (kumbung jamur), pembuatan media, inokulasi jamur, inkubasi, hingga panen dan pasca panen. jangan lupa untuk selalu menerapkan kebersihan dalam proses produksi jamur, untuk mendapatkan kualitas jamur tiram yang baik

      Hapus
  8. Halo, saya Rahmad mau bertanya untuk budidaya jamur tiram kenapa harus memakai bibit F2? apa perbedaan bilamenggunakan F1 atau kalau ada F3?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas pertanyaanya Rahmad :)
      Penggunaan bibit F2 merupakan istilah yang digunakan dalam tahapan atau fase inokulasi jamur. tahap F0 merupakan proses inokulasi awal untuk mendapatkan kultur murni yang kemudian hasil dari inokulasi F0 ini akan digunakan untuk pembibitan F1, dan hasil inokulasi F1 digunakan untuk pembibitan F2. Proses inokulasi ini harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan tahapan fase inokulasinya.

      Hapus

Posting Komentar